Gambar: jony Y / Unsplash / Unsplash License
Aku ingin melukis hujan, seperti kamu yang selalu melukis lengkung senja dan berkata “Senyummu seperti senja. Merah, dan selalu aku tunggu”. Aku ingin melukis hujan. Karena aku ingat, hujan tak menghalangimu untuk membiarkanku memeluk diriku sendiri sepulang sekolah. Aku ingin melukis hujan. Meskipun aku tahu hujan adalah tangisan langit, karena tak dapat memeluk bumi. Aku tetap ingin melukis hujan. meskipun aku tak pandai melukis, hanya mampu menulis. Hujan lebih mampu berbicara, saat kita berdua takluk dalam diam. Saat embun di jendela tampak lebih hangat dari dua cangkir kopi di hadapan kita. Aku ingin melukis hujan. Sebab dengan begitu aku akan selalu ingat: Kita pernah berdua di bawah payung yang sama.
Solo, 23 Februari 2014
