Gambar: Nikita Nikitin / Unsplash / Unsplash License
Entah bagaimana Tuhan menciptakan rindu sebab yang kurasa hanya sendu, kemudian hanyut menjadi debu yang dibawa gelombang biru. Mungkin dari pilu Ia ciptakan rindu, kemudian dianyam pakai sembilu berubah jadi alunan puisi nan syahdu, yang melantun bahkan saat lindu. Beruntung Tuhan menciptakan rumah bagi rindu, agar ia bisa pulang melabuhkan keluh. Meski akan kembali bersauh, meninggalkan sekotak gemuruh. Sayangnya, rindu tak pandai berhitung, parahnya lagi, ia selalu curang. Semakin lebar jarak, semakin cepat debar jantung, selalu bertambah porsinya, tak jua berkurang. Nahas, rindu juga bikin candu. Lebih dari sebatang rokok yang biasa kuhisap. Makin jarang berjumpa, semakin rindu, makin sering berjumpa, semakin meresap. Aku harap semua rindu menemukan rumah, agar tak jatuh korban; sebab rindunya tersesat tak bisa pulang. Aku harap rindu ini juga punya rumah, agar tak harus kubakar bersama arang. Semoga kita tak berakhir menjadi sepasang rindu, yang saling melepaskan diri dari rasa candu.
Semarang, 9 September 2015
