Dari Teras

Hujan adalah cara langit merindukan bumi

Sebuah Elegi Tentang Rindu

Jendela rumah yang menyala terang saat senja

Gambar: Nikita Nikitin / Unsplash / Unsplash License

Entah bagaimana Tuhan menciptakan rindu
sebab yang kurasa hanya sendu,
kemudian hanyut menjadi debu
yang dibawa gelombang biru.

Mungkin dari pilu Ia ciptakan rindu,
kemudian dianyam pakai sembilu
berubah jadi alunan puisi nan syahdu,
yang melantun bahkan saat lindu.

Beruntung Tuhan menciptakan rumah bagi rindu,
agar ia bisa pulang melabuhkan keluh.
Meski akan kembali bersauh,
meninggalkan sekotak gemuruh.

Sayangnya, rindu tak pandai berhitung,
parahnya lagi, ia selalu curang.
Semakin lebar jarak, semakin cepat debar jantung,
selalu bertambah porsinya, tak jua berkurang.

Nahas, rindu juga bikin candu.
Lebih dari sebatang rokok yang biasa kuhisap.
Makin jarang berjumpa, semakin rindu,
makin sering berjumpa, semakin meresap.

Aku harap semua rindu menemukan rumah,
agar tak jatuh korban; sebab rindunya tersesat tak bisa pulang.

Aku harap rindu ini juga punya rumah,
agar tak harus kubakar bersama arang.

Semoga kita tak berakhir menjadi sepasang rindu,
yang saling melepaskan diri dari rasa candu.

Semarang, 9 September 2015