Dari Teras

Hujan adalah cara langit merindukan bumi

Sebuah Puisi Untuk Menemani Perjalanan Baka

Biji dandelion beterbangan tertiup angin

Gambar: Markus McKay / Unsplash / Unsplash License

Bersama linangan tangis dan ketulusan hati,
kutuliskan puisi ini.
Sebagai teman perjalanan ke sana,
menuju alam paling baka.

Masih jelas tergambar rekah senyummu,
yang setiap minggu dijumpai di ruang itu.
“Selamat pagi, Bu”, ujarku.
“Ketemunya kok kamu lagi to mas, bosen saya”.

Masih terngiang jelas nasihatmu siang itu padaku,
“Kamu hati-hati kalo ngajarin grammar,
saya saja sampai sekarang masih belajar”.
Dengan mantap kujawab, “pasti, Bu!”

Lalu teringat perdebatan sederhana perihal martabak manis,
“Nggak usah bawa martabak manis kalo ke rumah saya,
saya sudah cukup manis untuk dibawain martabak manis”.
Kemudian kita hanyut dalam gelak tawa.

Maafkan saya Bu, maaf karena datang ke rumah Ibu
tanpa sekotak martabak manis.
Maaf karena saya datang membawa doa dari dalam kalbu,
berusaha menahan isak tangis.

Sekarang Ibu telah pergi
melakukan perjalanan menuju surgawi.
Menempati rumah yang sudah jadi,
menepati panggilan Gusti.

Merasa kehilangan itu pasti,
namun sedih tak ‘kan menetap di hati.
Sebab kematian bagiku
adalah awal kehidupan yang baru.

Semoga secarik puisi ini mampu
menemani perjalananmu
menuju alam paling baka,
yang bebas dari segala duka.

Selamat jalan Ibu Arida tercinta.
Sampai jumpa di surga sana,
dengan sekotak martabak manis.

Puisi ini didedikasikan penuh untuk Almarhumah Ibu Arida.

Semarang, 1 November 2015