Kekasihku seorang penyair. Ditulisnya namaku dalam baris dan bait itu. Ia tatapi mataku dalam-dalam, lalu tangannya menari indah di atas kertas putih itu. Suatu hari kuajukan sebuah tanya, “Sayang, tak jemukah kau menulis puisi untukku?” “Yang fana adalah waktu, kita abadi, kekasih. Jika nanti tak ada lagi kamu di dalam aku, atau aku di dalam kamu, biarlah kita abadi dalam baris dan bait ini. Perpisahan tak akan mampu merenggut kita dalam kata”. Kekasihku seorang penyair. Matanya menatapku dan kertas itu, bergantian. Sekarang aku mengerti mengapa ia gemar sekali menulis namaku: “Hidupmu adalah puisi paling indah yang tak akan pernah selesai aku tulis”.
Karanganyar, 22 April 2018