Lelaki itu tak pernah tahu, rindu yang ia tanam akan berbuah lara. Ia juga tak pernah tahu, cinta yang ia rawat akan membuatnya jera. Yang ia tahu hanya menyiram mereka dengan keringat dan air mata. Ia tak mampu menerka, bahwa esok tak akan ada lagi kita. Maka lelaki itu pun tenggelam, sebab ia mencintai samudra, tanpa tahu caranya berenang. Tangannya tak mampu menangkap arus-arus itu, meski airnya tampak tenang. Di antara ada dan tidaknya, ia merintih lirih “dasarmu adalah batas sadarku”.
Terinspirasi oleh cuitan Adimas Immanuel beberapa tahun lalu.
Karanganyar, 7 Agustus 2018